Tragedi Berdarah di Rumah Soekarno Pada Malam 17 Agustus

Tragedi Berdarah di Rumah Soekarno

Megamein.com – Perjuangan bangsa Indonesia tidak berakhir begitu saja saat proklamasi kemerdekaan dibacakan. Bahkan pada tahun-tahun setelah kemerdekaan masih banyak yang  harus diperjuangkan. Tak jarang hanya untuk sekedar berbicara untuk mengaspirasikan pendapat atau hanya untuk sekedar merayakan HUT RI pun dapat menyebabkan nyawa seseorang melayang.

Seperti pada peristiwa berdarah malam perayaan 17 Agustus 1948 di halaman rumah Bung Karno, di jalan Pegangsaan Timur 56. Malam itu sekelompok remaja pandu putra dan putri sedang mengadakan upacara api unggun di kediaman Bung Karno yang juga merupakan tempat diproklamirkannya kemerdekaan. Malam itu merupakan malam perhelatan peringatan ke-3 berdirinya Republik Indonesia. Ketika mereka sedang asyik berada di sekeliling api tiba-tiba tentara pendudukan KNIL melepaskan serentetan tembakan. Dalam peristiwa ini seorang pandu tertembak, sayangnya nyawanya tak dapat diselamatkan.

Dalam buku tulisan Jendral AH Nasution, dimuat identitas remaja pandu ini bernama Soeprapto, murid sekolah Taman Dewasa (SMP-nya Taman Siswa) Kemayoran kelas 3, anak dari seorang jurist Mr. A. Dwidjosewojo. Remaja yang ditembak serdadu KNIL pada 17 Agustus 1948 sekitar jam 20.00 kemudian meninggal di RSUP Jakarta pada 18 Agustus 1948 jam 00.30.

BACA JUGA  Pada Zaman Ini Wanita Berpetualang, Laki-Laki Tinggal di Rumah

Professor Bahder selaku dokter dan ketua badan perwakilan Palang Merah Indonesia sempat melihat pandu tersebut di rumah sakit, Ia mendapati remaja yang tergeletak dengan leher ditembus peluru dengan banyaknya darah yang keluar. Meski sudah diupayakan untuk mengganti banyaknya darah yang keluar namun Soeprapto gagal untuk diselamatkan.

Seminggu setelah peristiwa tertembaknya pandu Soeprapto, Mr Dwidjosewojo yang tidak lain ialah ayahnya Soeprapto mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pegawai di salah satu institusi peninggalan Hindia Belanda. Bahkan seorang teman dekat ayah pandu, Dr Verdoorn yang juga merupakan seorang pejabat Belanda, turut meletakkan jabatannya dan mengundurkan diri dari pekerjaan.

Peristiwa ini banyak menuai simpati dari berbagai kalangan termasuk juga warga Belanda. Meski begitu peristiwa heroik ini tidak lagi banyak diketahui oleh masyarakat luas, bahkan organisasi kepanduan pun seolah tidak lagi bangga karena pernah mempunyai anggota yang juga bisa disebut sebagai pahlawan. Bahkan rumah tempat proklamasi kemerdekaan diikrarkan pun telah dirobohkan sehingga bangsa tak tahu lagi di mana tempatnya posisi Bung Karno saat membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Comments

Tulis Komentar

Add a Comment

Your email address will not be published.

error: