Seorang Kyai Dijebak dan Dibunuh, Kepalanya Dipenggal dan Disimpan di Museum Belanda

Megamein.com – Jika mendengar nama Demang Lehman maka yang terpikir adalah sebuah stadion sepak bola yang merupakan markas anggota Barito Putra. Tetapi sebenarnya nama Demang Lehman tersebut berasal dari seorang Panglima Perang di Kesultanan Banjar

Dilansir dari daerah.sindonews.com(11/5).  Demang Lehman terlahir dengan nama Idies. Dia lahir di Barabai tahun 1832. Gelar Kyai Demang sendiri merupakan sebuah gelar untuk pejabat yang memegang sebuah lalawangan (distrik) di Kesultanan Banjar.

Beliau merupakan orang kepercayaan Sultan Hidayatullah yang terus berjuang untuk Sultan Hidayatullah hingga akhir hayat. Demang Lehman sendiri dikenal sebagai orang yang sangat sakti, sosoknya begitu ditakuti oleh Belanda. Ia memegang pusaka Keris Singkir yang berasal dari Kerajaan Banjar serta sebuah tombak dari Sumbawa yang bernama Kalibelah.

Banyak siasat licik yang digunakan Belanda untuk membunuh Demang Lehman namun selalu gagal. Ia tidak kenal kompromi dan selalu menolak ajakan belanda berikut dengan janji-janji manisnya.

Namun Demang Lehman akhirnya berhasil ditangkap setelah menunaikan sholat subuh dalam keadaan tidak bersenjata. Demang Lehman saat itu tengah bersembunyi di Gua Gunung Pangkal, Batulicin. Ia ditawari menginap oleh seseorang bernama Pembarani. Karena tergiur imbalan akhirnya Pembarani bekerjasama Syarif Hamid beserta anak buahnya yang telah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang demi untuk mencari Demang Lehman di bawah perintah Belanda. Demang Lehman yang tidak tahu bahwa Belanda Tengah mengatur perangkap untuknya bersama dengan orang yang menginginkan imbalan dan pangkat akhirnya berhasil ditangkapï.

BACA JUGA  3 Isak Tangis Soekarno yang Menjadi Sejarah

Setelah ditangkap, Demang Lehman dibawa ke Martapura dan pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung terhadapnya. Lalu pada 27 Februari 1864 Ia dieksekusi di Martapura.

Para pejabat militer Belanda yang saat itu menyaksikan hukuman gantung terhadap Demang Lehman merasa kagum atas ketabahannya saat menaiki tiang gantungan dengan mata terbuka. Raut wajahnya tidak berubah, yang menggambarkan sebuah ketabahan yang luar biasa. Bahkan tidak ada satu keluarganya pun yang menyaksikan eksekusi mati nya tersebut, serta tidak ada anggota keluarga yang menyambut mayatnya.

Setelah di eksekusi mati, kepala Demang Lehman dipotong oleh Belanda kemudian dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepalanya kemudian disimpan di Museum Leiden di Belanda. Mayat Demang Lehman akhirnya dikuburkan tanpa kepala.

Sebelum digantung Demang Lehman berteriak keras “Dangar-dangar barataan! Banua Banjar lamun kahada lakas dipalas lawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Walanda!”.

“Dengar dengar semua! banua (wilayah) Banjar kalau tidak dilawan dengan air mata darah, maka lengket dipegang Belanda”

Comments

Tulis Komentar

Add a Comment

Your email address will not be published.

error: