Kisah Pilu Hari-Hari Terakhir Soekarno Menjabat, Sebelum di Usir dari Istana

Kisah Pilu Hari-Hari Terakhir Soekarno Menjabat

Megamein.com – Hari-hari menjelang akhir masa jabatan Presiden Soekarno sangat menyesakkan. Bagaimana tidak, Presiden Soekarno berkuasa tapi tak memiliki wewenang. Bahkan Ia diusir oleh Soeharto untuk keluar dari Istana Merdeka.

Dilansir dari daerah.sindonews.com(1/5). Pada hari-hari terakhir itu, fasilitas yang diberikan untuk Presiden Soekarno perlahan dilucuti. Pengawalan seadanya lakukan oleh CPM. Helikopter yang sering digunakan Soekarno untuk pergi Jakarta-Bandung juga telah dilarang.

Permohonan dari dokter kepresidenan yang menangani masalah persediaan obat-obatan untuk penyakit ginjal soekarno yang semakin menipis juga diabaikan. Akibatnya presiden Soekarno mengalami bengkak dan hari ke hari.

Meski saat itu Soekarno masih menjabat sebagai presiden serta Panglima tertinggi, namun perlakuan terhadapnya dilakukan seperti masyarakat biasa.

Pernah suatu ketika, anggota pengawal pribadi yang terdiri dari polisi, tengah mengawal kepergian Presiden Soekarno ke Istana Bogor. Ketika mobil yang ditumpangi Soekarno hendak di bukakan pintunya oleh anggota DKP, seorang Perwira Pomad langsung membentak dengan kasar dan melarang anggota DKP tersebut membukakan pintu.

Bahkan di dalam Istana Merdeka sendiri, jatah makanan untuk Presiden Soekarno dikurangi. Suatu pagi Soekarno merasa sangat kelaparan, Ia meminta roti bakar kepada pelayan namun sang pelayan menjawab tidak ada. Kemudian ia meminta jika tidak ada roti bakar maka diganti dengan pisang saja. Jawaban sang pelayan pun tetap sama yang mengatakan bahwa pisang tersebut tidak ada. Saat itu Soekarno yang lapar merasa sangat kecewa dan untuk terakhir kali Ia meminta nasi dan kecap saja. Namun lagi-lagi jawabannya tetap sama, tidak ada nasi untuk Presiden Soekarno. Presiden Soekarno lalu terdiam, kemudian beliau bergegas pergi Istana Bogor menemui Ibu Hartini untuk dibuatkan sarapan pagi.

Aktivitas Presiden di luar Istana juga selalu dimata-matai oleh Intelijen Kodim. Ketika Presiden Soekarno ingin menjenguk Kolonel CPM Sunario di daerah Gadog, Ciawi, Bogor. Presiden yang menyempatkan diri untuk melihat aktivitas para petani di perkebunan rakyat dibuat kaget ketika melihat respon para petani yang ketakutan melihat kehadirannya.

Mereka menghindar bahkan menutup pintu rumah mereka rapat rapat agar tidak bertemu dengan Sang Presiden. Presiden Soekarno yang bingung akhirnya menanyakan kepada Sunario dan menemukan alasan dibaliknya.

BACA JUGA  Penjahat legendaris, Billy the Kid Memohon Pengampunan

Sebelum kedatangan Presiden Soekarno, masyarakat telah ditakuti dengan cerita yang menyeramkan jika ada yang berani menemui Soekarno. Seperti yang terjadi pada tukang sate yang diangkut oleh tentara ke Kodim untuk di introgasi, karena sebelum kejadian tersebut Presiden Soekarno sempat singgah untuk makan sate kambing di warungnya di kawasan Ciawi.

Dalam keadaan yang menyedihkan tersebut, Presiden Soekarno dan keluarganya diminta harus sudah pergi dari Istana sebelum tanggal 17 agustus 1967. Kepergiannya sendiri disaksikan oleh Ajun Inspektur Polisi I Sogol Djauhari Abdul Muchid, anggota DKP yang setia pada Soekarno.

Sogol menceritakan bahwa surat Perintah yang berisi tentang keluarnya Presiden Soekarno dari Istana Merdeka berasal dari Jenderal Soeharto yang diberikan kepadanya melalui Komandan DKP Mangil.

Sebelum meninggalkan istana, presiden Soekarno meminta anak-anaknya untuk tidak membawa yang berharga dari istana terkecuali buku pelajaran, perhiasan pribadi serta pakaian pribadi.

Dengan menggunakan kaos oblong dan celana warna cream, serta sandal usang dengan koran yang digulung berisi bendera pusaka Sang Saka merah putih di tangan kanannya, Presiden Soekarno meninggalkan istana.

Seperti itulah Presiden Soekarno yang pergi tanpa membawa barang berharga. Logam mulia, batu mulia serta uang Dollar Amerika Serikat ditinggalkannya di istana. Hari itu, dengan mobil Volkswagen kodok miliknya, ia pergi meninggalkan Istana Merdeka dan tak pernah kembali lagi.

Ketika itu Soekarno masih menjabat sebagai Presiden namun wewenangnya telah dicopot. Foto-fotonya telah di turunkan dari kantor pemerintahan serta tempat-tempat umum.

Pemerintahan diambil alih oleh Jenderal Soeharto yang diangkat menjadi Pejabat Presiden. Setahun setelah itu, jabatan Soekarno diturunkan dan beralih pada Soeharto yang diangkat sebagai Presiden.

Penderitaan Soekarno semakin menjadi-jadi saat Ia sudah tidak menjadi Presiden. Soekarno didatangi anggota Kopkamtib Soeharto berbulan-bulan lamanya untuk di introgasi mengenai apa yang terungkap selama interogasi dan proses Mahlibub.

Soekarno hidup seorang diri bahkan anak-anaknya pun tidak boleh bertemu dengannya. Soekarno juga seringkali menangis seorang diri dan melamun mengingat masanya ketika masih menjabat sebagai Presiden. Masa itu adalah masa yang sangat tidak menyenangkan hatinya.

Begitulah kondisi Soekarno di masa akhir jabatannya sebagai Presiden. Soekarno dicampakkan bahkan terasingkan dari rakyat yang diperjuangkannya.

Comments

Tulis Komentar

Add a Comment

Your email address will not be published.

error: